Tokoh Pejuang Daeng Muhammad Ardiwinata Satria Rendah Hati


Judul : Tokoh Pejuang Daeng Muhammad Ardiwinata Satria Rendah Hati
link : Tokoh Pejuang Daeng Muhammad Ardiwinata Satria Rendah Hati


Tokoh Pejuang Daeng Muhammad Ardiwinata Satria Rendah Hati

Membaca biografi dongeng pejuang memang sanggup memotivasi kita betapa mereka susah payah membela tanah air hingga harus berkorban apa saja. Diantara sekian banyak pendekar tertulislah nama tokoh berjulukan Daeng Muhammad Ardiwinata.

Warga masyarakat Bandung pastinya mengenal sebuah nama jalan berjulukan Jalan Daeng Muhammad Ardiwinata di kawasan Cihanjuang, yang merupakan susukan penghubung jalan menuju kompleks kantor Pemerintahan Kota Cimahi yang juga menyambungkan ke Kecamatan Parongpong Kab. Bandung Barat. Jalan Daeng Muhammad Ardiwinata tersebut terletak di jalan lingkar utara Cimahi, pastinya dengan memperlihatkan penamaan tersebut setidaknya memperlihatkan imbas perekonomian tumbuh di Cihanjuang. Perlu diketahui bahwa Daeng identik dgn nama yang berasal dari suku Bugis Makassar. Padahal menurut dongeng riwayatnya Daeng Muhammad Ardiwinata lahir dan tumbuh di tanah bumi Sunda.
Biografi Daeng Muhammad Ardiwinata
Daeng Muhammad Ardiwinata merupakan tokoh pejuang keturunan dari anak bungsu Daeng Kanduruan Ardiwinata yang pernah tinggal di Malangbong Garut. Bapaknya berasal dari Bugis Makasar dan kemudian menikahi orang orisinil tataran Sunda.

Perjalanan hidup bapaknya Daeng yang berjulukan Kanduruan Ardiwinata tersebut populer sebagai seorang pendekar yang Nasionalis dan Agamis. Selain itu pula ia merupakan sastrawan Sunda, lantaran pernah mendirikan Paguyuban Pasundan sekitar tahun 1914. Melalui perjuangannya itu Beliau memperoleh anugrah penghargaan “Ridder in de Orde Van Orange Nassau”, yakni sebuah apresiasi penghargaan budaya dari pemerintah kolonial Belanda.

Kemudian sebagai seorang Anak Daeng meneruskan usaha Bapak dan Kakeknya memperjuangkan impian kemerdekaan rakyat Indonesia. Prinsip yang diwariskan dari darah moyangnya berjuang demi kemerdekaan menjadi tanggungjawab semua warga penduduk Negeri Indonesia.

Tinggal dan besar di Cimahi Bandung Daeng Muhammad Ardiwinata memulai karir perjuangannya sebagai tokoh pendekar sehabis Batalyon IV PETA di Cimahi dibubarkan. Ketika itu bersamaan dengan keberadaan Jepang mengalah di tangan rakyat Indonesia. Daeng kemudian menyatukan para perjaka untuk bergerak bersama berjuang melawan penjajah dengan cara bergabung kedalam BKR. Ketika itulah populer Daeng bersama anak buahnya sebagai Tentra Keamanan Rakyat (TKR) yang amat disegani.

Tentara Keamanan Rakyat Kompi pasukan Daeng pada asalnya masuk formasi Batalyon IV Momon Resimen 9 Gandawijaya. Setelah Itu, Batalyon IV Momon jadi Detasemen 9 Momon. Kompi I/ daeng berkedudukan di Cibabat-Cibeureum samapai dgn Fokerweg (waktu ini Jalan garuda) Bandung.

Pasukan dibawah komandan Kompi Daeng diikuti “anak kolong”, ialah sebutan bawah umur serdadu Belanda KNIL sebelum Perang Dunia II meletus, julukan anak kolong sehabis itu jadi ternama buat sebutan pasukan pejuang dari Cimahi.

Kompi Daeng aktif dalam pertempuran, pencegatan tentara sekutu, dengan Hizbullah menyerang pabrik senjata ACW cabang pabrik PINDAD di Cibabat Cimahi yg dikuasai Jepang, hingga pertempuran di alun-alun Cimahi merebut truk yg diisi tentara sekutu, dalam satu pertempuran, Daeng kehilangan satu orang dokter Resimen, Dokter Dustira.

Dari Kompi, pasukan daeng dibuat jadi Batalyon 25, namun lebih dikenal dgn “Batalyon Daeng”. Kala suasana semakin genting Batalyon daeng ditarik ke Resimen 8 & ditempatkan di Panjalu & Pangalengan. Disaat Clash I kepada 1947 Daeng ditempatkan di Bungbulang Garut & Bandung Selatan. Terhadap pertempuran di Nangkaruka kawasan Bungbulang dirinya akan menumpas tentara Belanda yg memiki peralatan mutahir.

Diwaktu gencatan senjata bersama Belanda, pasukan Siliwangi hijrah ke jateng. Dalam perjalan pulang ke Jawa Barat, Daeng dengan Komandan Kodam Siliwangi Letkol Daan Yahya ditawan Belanda. Mereka dibuang ke pulau Nusakambangan dengan Komandan CPM Cimahi FE Thanos.
Sesudah menerima pernyatan kemerdekaan dari Belanda, terhadap simpulan 1949, dibuat Komando Resimen 063/Sunan Gunungdjati. Daeng yg dikala itu berpangkat Letkol Infantri diakui yang merupakan Komandan mula-mula bersama wilayah kerja mencakup Garut, Subang, Ciamis & Kab Bandung.

Sesudah kemerdekaan dipertahankan, Daeng merasa usaha melawan penjajah sudah tuntas. Dikala itu, Daeng ditawari promosi ke Makassar namun ia menolak. Karir militernya serta menggantung dgn pangkat terakhir Kolonel. Pada tahun1954 Daeng digandeng Kolonel AH Nasution Kolonel Gatot Subroto mendirikan Partai Ikatan Suporter Kemerdekaan Indonesia (IPKI). Daeng diangkat sbg Ketua IPKI Jawa Barat.

Awal mula Karir politik Daeng Muhammad Ardiwinata terjadi pada pemilihan umum tahun 1955, Beliau terpilih sebagai anggota DPR-RI. Lima th sehabis itu, dilantik jadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Selama simpulan karir kerjanya di tahun 1967-1970, Daeng menjadi Direktur PPN Dwikora IV Perkebunan Teh di Subang, sekaligus mengawasi pergerakan PKI yang mengakibatkan Subang yang merupakan basis pergerakannya. Selepas jabatan itu Daeng mundur dari pemerintahan militer. Daeng menikah dgn Siti Rukayah dikaruniai 5 anak 11 cucu.

Kita sanggup mengambil teladan Daeng Muhammad Ardiwinata selain sebagai pendekar termasuk juga tentara yang berdarah Makassar yang mempunyai abjad eksklusif yg tegas dan berwibawa. Disiplin, tidak mentelorir kelalaian, pun tidak tidak sedikit narasi. Tapi, ia amat sangat bersahabat bersama orang kurang sanggup alasannya rendah hati & memiki jiwa sosial yg yg tinggi.

Karir militer yg dijalani dinilainya merupakan pengabdian. Daeng pula tidak ngambil upah & pensiun dari militer. Ia cuma membawa bayaran disaat jadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Terhadap 1996, Daeng menerima piagam & mendali penghargaan Angkatan 45 dikala peringatan Hri Kemerdekaan ke 50 dari Gubernur Ja-bar HR Nuriana.
Sumber : dickyrachmadie.blogspot.co.id
Daeng mengabadikan sisa hidupnya dengan Yayasan Sekolah Tinggi Hukum Bandung yang didirikannya. Daeng wafat kepada 15 April 2000 disaat berusi 77 thn. Dirinya menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, pilih ia dikebumikan berdampingan dengan istrinya di pemakaman keluarga di Kampung Juntigirang Desa Banyusari Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung. Makam Daeng dipilih jadi titik pemancangan bambu runcing “Pejuang 45” ketika peringatan Hari Pahlawan th 2000 silam.

Demikian hikayat singkat tokoh pejuang berjulukan Daeng Muhamad Ardiwinata seorang pendekar yang rendah hati. Semoga sanggup menjadi pelajaran untuk kita semuanya.
Akhir kata penulis sampaikan beribu terima kasih kepada keluarga Daeng Muhammad Ardiwinata, terkhusus yang telah mengkoreksi dalam penulisan ini yakni Bapak Dicky Rachmadie.